Sunday, 11 January 2015

Cerita dibalik dua cangkir kopi



Kita akan berbahagia dengan cara yang sederhana, sesederhana kita menertawakan keriput yang mulai muncul diwajah masing-masing kita.

Kita akan mencintai dengan cara yang sesederhana, namun sebanyak uban yang dengan pasti mulai tumbuh dikepala.
Bila esok aku menemukanmu semakin menua, maka dengarkanlah: 
"uban dan keriputmu membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi."

Jika Ayah saya adalah pecandu kopi akut maka Ibu saya adalah pembuat kopi terbaiknya. Seperti gula pada kopi dan kopi pada gula, keduanya selalu mampu melengkapi satu sama lain, menciptakan rasa yang begitu baik untuk dinikmati. 

Setiap pagi, ditengah waktu sibuknya mengerjakan pekerjaan rumah dan bersiap ke kantor ibu saya akan meracik kopi terbaiknya untuk diseduh ketika Ayah saya bangun. Ayah saya memang telah memasuki waktu pensiunnya beberapa tahun yang lain. Namun bukan berarti kegagahannya turut hilang bersama baju tentara yang tak lagi dipakainya itu. 

Ketika senja tiba, sepulang Ibu saya dari bekerja keduanya akan duduk mengobrol di teras ditemani dua cangkir kopi. Ibu saya akan menceritakan apa yang dialaminya seharian di kantor, sementara Ayah akan jadi pendengar yang baik sembari sesekali mengomentari lalu menceritakan hari miliknya sendiri, tentang bisnis kayu yang sedang digelutinya atau siapa saja yang diajarnya hari ini.  Ayah saya juga sering mengajari dan melatih anak-anak yang ingin masuk sekolah kedinasan seperti TNI dan IPDN di rumah. 

Setelah matahari pulang keperaduannya keduanya akan masuk ke dalam, kadang jika tidak sholat di masjid Ayah dan Ibu saya akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan Ayah saya sebagai imam. Saya selalu saya suka dari ritual sholat berjamaah itu adalah Ayah saya akan memimpin dzikir dan doa selepas sholat yang kemudian akan di-aamiini oleh Ibu saya. Saya begitu mencintaimu bagaimana cara Ibu mencium telapak tangan Ayah selepas sholat. Begitu manis.

Setelah makan malam bersama dan selepas Ibu saya menyelesaikan pekerjaannya, kembali keduanya akan duduk rukun di ruang tamu. Kadang ditemani dua cangkir teh atau kopi susu. Atau tanpa apapun.  Membicarakan banyak hal ini dan itu, tentang cucu-cucu mereka yang telah bisa duduk dan sedang lucu-lucunya. Tentang anak-anak mereka yang sudah semakin dewasa. Tak jarang keduanya kehabisan bahan pembicaraan dan hanya duduk diam. Namun diam diantara keduanya tidak pernah canggung juga bukan sesuatu yang baru. Sebab, dalam diam mereka tetap mampu mengerti satu sama lain dengan baik.

Tak banyak yang tahu berapa sudah kisah pilu yang mereka lalui bersama atau sebelum mereka bertemu. Perjuangan hidup yang mereka lalui hingga sampai dititik sekarang.  Ayah saya seorang perantau dari sebuah kampung di Ciamis sana.  Setelah lulus SD,  beliau merantau ke Bandung.  Harus ikut hidup di rumah orang lain untuk melanjutkan sekolah. Beliau sering bercerita bahwa singkong adalah jajan paling mahal yg bisa beliau beli karena sering tak memiliki uang sepeserpun.  Tak jauh berbeda dengan ibu saya,  bungsu dari 12 bersaudara yang tinggal di ujung Kalbar sana. Berasal dari orang tua yang mualaf membuat hidupnya lebih berwarna lagi.  Keduanya sudah melalui banyak kisah perjuangan sebelum mampu memetik hasilnya sekarang.  Jangan sombong dan belajar hidup prihatin, karena kita tidak tahu kapan roda kehidupan berputar.  Bisa jadi sekarang di atas besok lusa kembali di bawah, nasihat yang paling sering dikatakan oleh keduanya. 

Saya selalu suka melihat mereka berbincang satu sama lain dan cara mereka membuat lelocun agar yang lainnya tertawa.  Bagaimana keduanya saling mengerti dan bersabar menghadapi satu sama lain selama 33 tahun pernikahan mereka. Pernikahan selama itu bukanlah hal yang mudah, tak ada hidup yang mudah. Itu sebabnya kita selalu butuh Tuhan pada setiap jengkal langkah kaki kita. Tapi terlepas dari segalanya, mereka mampu melewati setiap ujian yang diberikan. Saya mencintainya keduanya, dan begitu mencintai bagaimana keduanya saling menyayangi satu sama lain. Semoga keduanya tak hanya hidup bersama di dunia, juga di akhirat kelak. Di sebuah rumah penuh bunga-bunga di dalam firdaus-Nya.



Rasanya, ingin bertanya pada dua cangkir bisu itu, pada sisa-sisa ampas kopi yang tersisa didasar gelas. Tentang cerita cinta yang disaksikannya bertahun-tahun lamanya.

Happy Anniversary 33rd Bun, Be. Semoga kalian semakin mencintai dan dicintai Allah seiring semakin besarnya cinta kalian satu sama lain.

S, 10 Januari 2015

No comments:

Post a Comment