"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”
Ini adalah kisah tentang masa
lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya
disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati.
Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang
kerinduan.
Selamat membaca.
Novel ini berhasil meraih satu bintang dari saya hanya
dengan membaca judul, sinopsis dan
melihat covernya. Pertama saya mengira bahwa novel ini bercerita tentang cinta,
tapi ternyata tidak. Ia berisi cerita kehidupan yang dapat begitu banyak
diambil pelajaran, namun cerita cinta tetap ada pada kisah milik Ambo Uleng yang
dibungkus apik dengan ending manis yang mampu membuat senyum-senyum sendiri. Adalah keluarga Daeng Adipati berserta istri
dan dua anaknya, Elsa dan Anna yang diceritakan sedang berada di kapal yang
akan mengantarkan mereka ke Jeddah untuk ibadah haji. Di kapal Blitar Holland, begitu nama kapal
uap 1938 itu mereka bertemu tokoh lain yang akan saling menjadi sebab akibat
bagi satu sama lain. Tokoh lain itu adalah Bonda Upe, Gurutta, Ambo Uleng,
Adipati Daeng, Mbah Kakung dan Mbah Putri
Lautan adalah latar yang mendominasi novel ini dengan , membuatnya unik
dari novel kebanyakan. Setiap tokohnya
mempunyai karakter kuat yang memiliki masalah masing-masing, setiap masalah
mereka membawa serta pertanyaan yang akan dijawab dalam novel ini. Salah satu
pertanyaan yang begitu membekas di hati saya adalah “ Apa itu kebahagian
sejati?” pertanyaan milik Daeng Adipati yang dikisahkan memiliki hidup yang
sempurna. Ia memiliki segalanya: harta benda, nama baik, pendidikan, istri yang
cantik dan anak-anak yang menggemaskan. Namun dibalik itu semuan ia membawa
kebencian turut serta dalam bertahun-tahun kehidupannya.
“Bagian yang kedua adalah terkait dengan berdamai tadi. Ketahuilah,
Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang
itu salah dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan! Kita memaafkan
seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati”
Pertanyaan lain dalam novel ini yang membuat saya tersenyum getir adalah milik Ambo Uleng tentang cinta sejati.
"Apakah cinta sejati itu? maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka cita. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya. Tidak bersedia."
"Lepaskanlah, Ambo. Maka besok atau lusa, jika dia adalah cinta sejatmu, dia pasti akan kembali dengan cara mengangumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya,itu bukan cinta sejatimu.
Hanya satu hal menurut saya yang sedikit menggangu dari
novel ini. Beberapa hal tampak tidak terlalu penting untuk diceritakan dan
bertele-tele, seperti rutinitas bangun-sarapan-sholat-sekolah dan beberapa yang
lai. Hal tersebut memberi kesan bahwa cerita sengaja dipanjang-panjangkan untuk
menambah tebal buku. Namun ada satu makna tersirat yang saya tangkap lewat
lambatnya alur dalam novel ini, yaitu dalam hidup kita selalu mempunyai
pertanyaan-pertanyaan tentang hidup itu sendiri, alasan dibalik setiap
peristiwa yang kita alami, mengapa kita harus mengalami ini dan banyak lagi
pertanyaan lain yang kerap menggangu dalam kepala. Bersabar. Bersabar adalah
salah satu cara untuk mendapat jawaban. Bersabarlah, maka waktu akan datang
menjelaskan setiap pertanyaan. Seperti bersabar membaca kata per kata, kalimat per kalimat, lembar per
lembar novel ini. Menikmati jalan cerita, kehidupan para tokohnya. Maka kita
pun akan mendapat jawaban, bisa di awal, di tengah, atau di akhir cerita.
Buat kalian yang sedang letih menjalani hidup dan sedang
mencari makna dari kehidupan itu sendiri sangat saya sarankan untuk membaca
novel ini. Good job bang tere!
4,5/5

No comments:
Post a Comment