Sunday, 8 March 2015

Review Novel: Sunset Bersama Rosie by Tere Liye





Saya menyelesaikan novel ini dengan waktu yang lumayan singkat. Memulai membacanya jumat malam dan menyelesaikannya minggu pagi, dengan banyak jeda tentu saja. Saya menyelesaikannya jauh lebih cepat dibanding novel-novel tebal lain milik Bang Tere yang pernah saya baca seperti rindu dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu atau Bumi. Mungkin karena cerita yang disajikan lebih sederhana, cinta dan persahabatan. Sederhana dalam kerumitannya dan rumit dalam kesederhanaannya. Satu hal yang membuat saya ingin menyelesaikan novel ini secepat mungkin adalah ingin mengetahui ending, walaupun ketika sudah sampai ke titik itu saya terpakasa kecewa karena endingnya tidak seperti yang saya harapkan.

Sunset bersama Rosie bercerita tentang dua sahabat sejak kecil, Rosie dan Tegarnya Karang (saya suka sekali nama si Tegar ini) yang salah satunya menyimpan perasaan terhadap yang lain. 20 tahun milik Tegar sama dengan 2 bulan milik Nathan, yang merupakan sahabat baik Tegar dan akhirnya menjadi suami Rosie sekaligus Ayah dari Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Jasmine adalah bunga favorite saya disini, entah bagaimana kepribadiannya yang cantik berhasil mencuri perhatian saya begitu banyak.

Dengan latar tempat Gili Trawangan, Lombok dan alur bolak-balik pada awalnya novel ini bercerita tentang keakraban antara Tegar dan keluarga Nathan. Tegar yang pada awalnya berusaha mengindari kenyataan tentang cintanya yang terlebih dahulu diambil Nathan akhirnya mampu berdamai dengan masalalu dan menjalin hubungan baik dengan keluarga Nathan. Semua berjalan baik hingga akhirnya bom di Jimbaran membuat Nathan tewas dan meninggalkan kesedihan begitu dalam bagi Rosie hingga membuatnya depresi dan harus dirawat di pusat rehabilitasi kejiwaan. Tegar memutuskan untuk pindah yang semula dari Jakarta ke Gili Trawangan, meninggalkan janji kehidupannya yang baru bersama Sekar. Calon istirinya. Maka terjadilah cinta penuh sisi itu, antara Nathan, Rosie, Sekar dan anak-anak. Dimana setiap sisinya mampu melukai satu sama lain.

Cinta, lagi dan lagi menjadi topik manis untuk dikemas dan dibahas, bagian per bagiannya. Dan novel ini sesuai sinopsisnya menyajikan cinta itu dari pemahaman berbeda dengan ending tak terduga yang mungkin akan membuat merengut atau mengerutkan kening. Tapi melalui novel ini kita akan mendapatkan pemahaman baru tentang cinta itu sendiri juga kesempatan. Bahwa kesempatan tidak melulu tentang membuat kesempatan tapi membiarkan kesempatan itu pergi. Jika memang kiita ditakdirkan memiliki kesempatan itu, maka besok lusa kesempatan itu yang akan datang sendiri menghampiri kita.

“Kau terlampau mencintai Rosie, Tegar. Maka hatimu terkadang sering menipu. Kau dulu sering bertanya apakah kau punya kesempatan? Menurut orang tua ini, kalian berdualah yang justru tidak berani membuat kesempatan itu. Betapa tidak beruntungnya. Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan takdir. Tapi itu tidak buruk. Bukanlah sebuah kesalahan. Maka biarkan seperti itu saja selamanya. Juga untuk urusan mala mini, biarkan seperti itu… Andaikata takdir itu memang baik untuk kalian, maka aka nada sesuatu yang bisa membelokan semua kenyataan. Tapi sepanjang sesuatu itu belum terjadi, maka seperti yang aku bilang tidak akan ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang, Anakku.”

Well, beberapa bagian dari novel ini sebenarnya tidak terlalu saya sukai. Terlebih endingnya, namun sebelum beranjak terlalu jauh ke ending saya merasa terganggu dengan karakter Tegar yang digambarkan begitu luar biasa. Terlalu sempurna dan drama untuk seorang laki-laki berusia 37 tahun. Sementara Rosie sendiri digambarkan terlalu biasa saja, hampit tidak ada diceritakan tentang kelebihan atau something make her special for a man like Tegar. Dan yang membuat karakter Rosie minus dimata saya adalah ketika ia tidak mempunyai chemistry untuk menjadi Ibu bagi anak-anaknya. Singkat kata, kelemahan novel ini adalah terlalu jauh dari realita yang sesungguhnya, hingga jatuhnya seperti sinetron. Terlebih beberapa bagian memuat hal yang mustahil, seperti cerita tentang Jasmine anak berumur 5 tahun yang begitu pandai mengasuh adiknya Lili yang berusia 1 tahun. Saya tertawa dalam hati ketika pertama kali membaca bagian itu karena saya sendiri memiliki keponakan berusia 10 bulan yang sedang lucu-lucunya yang mana ketika kita lengah beberpa detik saja ia bisa jadi sudah berguling jatuh dari tempat tidur atau memakan apa saja yang dilihatnya. Berbeda sekali dengan Lili yang lebih banyak tidur. (curhat, abaikan saja)

Namun, saya tetap berprasangka baik pada Bang Tere mungkin saja cerita yang ingin diangkat olehnya memang seperti itu. Lelaki biasa yang memlih Perempuan yang biasa saja. Tentang Jasmine tadi bisa jadi nilai moral yang ingin ditanamkan adalah seorang kakak yang walaupun masih kecil mampu merawat adiknya dengan baik.

Akhirnya saya harus bilang bahwa Sunset Bersama Rosie bukan novel Tere Liye favorite saya. Terlalu banyak hal yang dilebih-lebihkan dikisah ini. Tegar yang terlalu luar biasa, anak-anak hebat, dan beberapa hal lain hingga kesannya jadi biasa saja. Jika membaca beberapa novel lain milik Bang Tere saya mendapat begitu banyak jawaban tentang kehidupan, tidak kali ini. Menghabiskan Sunset Bersama Rosie justru meninggalkan banyak pertanyaan. Mungkin saja saya harus membuat kesempatan milik saya sendiri untuk mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaan itu.

3,5/5

Saturday, 7 March 2015

Review Novel: Rindu by Tere Liye





"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Selamat membaca.
 
 





Novel ini berhasil meraih satu bintang dari saya hanya dengan  membaca judul, sinopsis dan melihat covernya. Pertama saya mengira bahwa novel ini bercerita tentang cinta, tapi ternyata tidak. Ia berisi cerita kehidupan yang dapat begitu banyak diambil pelajaran, namun cerita cinta tetap ada pada kisah milik Ambo Uleng yang dibungkus apik dengan ending manis yang mampu membuat senyum-senyum sendiri. Adalah keluarga Daeng Adipati berserta istri dan dua anaknya, Elsa dan Anna yang diceritakan sedang berada di kapal yang akan mengantarkan mereka ke Jeddah untuk ibadah haji.  Di kapal Blitar Holland, begitu nama kapal uap 1938 itu mereka bertemu tokoh lain yang akan saling menjadi sebab akibat bagi satu sama lain. Tokoh lain itu adalah Bonda Upe, Gurutta, Ambo Uleng, Adipati Daeng, Mbah Kakung dan Mbah Putri  Lautan adalah latar yang mendominasi novel ini dengan , membuatnya unik dari novel kebanyakan.  Setiap tokohnya mempunyai karakter kuat yang memiliki masalah masing-masing, setiap masalah mereka membawa serta pertanyaan yang akan dijawab dalam novel ini. Salah satu pertanyaan yang begitu membekas di hati saya adalah “ Apa itu kebahagian sejati?” pertanyaan milik Daeng Adipati yang dikisahkan memiliki hidup yang sempurna. Ia memiliki segalanya: harta benda, nama baik, pendidikan, istri yang cantik dan anak-anak yang menggemaskan. Namun dibalik itu semuan ia membawa kebencian turut serta dalam bertahun-tahun kehidupannya. 

“Bagian yang kedua adalah terkait dengan berdamai tadi. Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan! Kita memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati”

Pertanyaan lain dalam novel ini yang membuat saya tersenyum getir adalah milik Ambo Uleng tentang cinta sejati.

"Apakah cinta sejati itu? maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka cita. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya. Tidak bersedia."

"Lepaskanlah, Ambo. Maka besok atau lusa, jika dia adalah cinta sejatmu, dia pasti akan kembali dengan cara mengangumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya,itu bukan cinta sejatimu.

Hanya satu hal menurut saya yang sedikit menggangu dari novel ini. Beberapa hal tampak tidak terlalu penting untuk diceritakan dan bertele-tele, seperti rutinitas bangun-sarapan-sholat-sekolah dan beberapa yang lai. Hal tersebut memberi kesan bahwa cerita sengaja dipanjang-panjangkan untuk menambah tebal buku. Namun ada satu makna tersirat yang saya tangkap lewat lambatnya alur dalam novel ini, yaitu dalam hidup kita selalu mempunyai pertanyaan-pertanyaan tentang hidup itu sendiri, alasan dibalik setiap peristiwa yang kita alami, mengapa kita harus mengalami ini dan banyak lagi pertanyaan lain yang kerap menggangu dalam kepala. Bersabar. Bersabar adalah salah satu cara untuk mendapat jawaban. Bersabarlah, maka waktu akan datang menjelaskan setiap pertanyaan. Seperti bersabar membaca  kata per kata, kalimat per kalimat, lembar per lembar novel ini. Menikmati jalan cerita, kehidupan para tokohnya. Maka kita pun akan mendapat jawaban, bisa di awal, di tengah, atau di akhir cerita. 

Buat kalian yang sedang letih menjalani hidup dan sedang mencari makna dari kehidupan itu sendiri sangat saya sarankan untuk membaca novel ini. Good job bang tere!
4,5/5

Sunday, 11 January 2015

Cerita dibalik dua cangkir kopi



Kita akan berbahagia dengan cara yang sederhana, sesederhana kita menertawakan keriput yang mulai muncul diwajah masing-masing kita.

Kita akan mencintai dengan cara yang sesederhana, namun sebanyak uban yang dengan pasti mulai tumbuh dikepala.
Bila esok aku menemukanmu semakin menua, maka dengarkanlah: 
"uban dan keriputmu membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi."

Jika Ayah saya adalah pecandu kopi akut maka Ibu saya adalah pembuat kopi terbaiknya. Seperti gula pada kopi dan kopi pada gula, keduanya selalu mampu melengkapi satu sama lain, menciptakan rasa yang begitu baik untuk dinikmati. 

Setiap pagi, ditengah waktu sibuknya mengerjakan pekerjaan rumah dan bersiap ke kantor ibu saya akan meracik kopi terbaiknya untuk diseduh ketika Ayah saya bangun. Ayah saya memang telah memasuki waktu pensiunnya beberapa tahun yang lain. Namun bukan berarti kegagahannya turut hilang bersama baju tentara yang tak lagi dipakainya itu. 

Ketika senja tiba, sepulang Ibu saya dari bekerja keduanya akan duduk mengobrol di teras ditemani dua cangkir kopi. Ibu saya akan menceritakan apa yang dialaminya seharian di kantor, sementara Ayah akan jadi pendengar yang baik sembari sesekali mengomentari lalu menceritakan hari miliknya sendiri, tentang bisnis kayu yang sedang digelutinya atau siapa saja yang diajarnya hari ini.  Ayah saya juga sering mengajari dan melatih anak-anak yang ingin masuk sekolah kedinasan seperti TNI dan IPDN di rumah. 

Setelah matahari pulang keperaduannya keduanya akan masuk ke dalam, kadang jika tidak sholat di masjid Ayah dan Ibu saya akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan Ayah saya sebagai imam. Saya selalu saya suka dari ritual sholat berjamaah itu adalah Ayah saya akan memimpin dzikir dan doa selepas sholat yang kemudian akan di-aamiini oleh Ibu saya. Saya begitu mencintaimu bagaimana cara Ibu mencium telapak tangan Ayah selepas sholat. Begitu manis.

Setelah makan malam bersama dan selepas Ibu saya menyelesaikan pekerjaannya, kembali keduanya akan duduk rukun di ruang tamu. Kadang ditemani dua cangkir teh atau kopi susu. Atau tanpa apapun.  Membicarakan banyak hal ini dan itu, tentang cucu-cucu mereka yang telah bisa duduk dan sedang lucu-lucunya. Tentang anak-anak mereka yang sudah semakin dewasa. Tak jarang keduanya kehabisan bahan pembicaraan dan hanya duduk diam. Namun diam diantara keduanya tidak pernah canggung juga bukan sesuatu yang baru. Sebab, dalam diam mereka tetap mampu mengerti satu sama lain dengan baik.

Tak banyak yang tahu berapa sudah kisah pilu yang mereka lalui bersama atau sebelum mereka bertemu. Perjuangan hidup yang mereka lalui hingga sampai dititik sekarang.  Ayah saya seorang perantau dari sebuah kampung di Ciamis sana.  Setelah lulus SD,  beliau merantau ke Bandung.  Harus ikut hidup di rumah orang lain untuk melanjutkan sekolah. Beliau sering bercerita bahwa singkong adalah jajan paling mahal yg bisa beliau beli karena sering tak memiliki uang sepeserpun.  Tak jauh berbeda dengan ibu saya,  bungsu dari 12 bersaudara yang tinggal di ujung Kalbar sana. Berasal dari orang tua yang mualaf membuat hidupnya lebih berwarna lagi.  Keduanya sudah melalui banyak kisah perjuangan sebelum mampu memetik hasilnya sekarang.  Jangan sombong dan belajar hidup prihatin, karena kita tidak tahu kapan roda kehidupan berputar.  Bisa jadi sekarang di atas besok lusa kembali di bawah, nasihat yang paling sering dikatakan oleh keduanya. 

Saya selalu suka melihat mereka berbincang satu sama lain dan cara mereka membuat lelocun agar yang lainnya tertawa.  Bagaimana keduanya saling mengerti dan bersabar menghadapi satu sama lain selama 33 tahun pernikahan mereka. Pernikahan selama itu bukanlah hal yang mudah, tak ada hidup yang mudah. Itu sebabnya kita selalu butuh Tuhan pada setiap jengkal langkah kaki kita. Tapi terlepas dari segalanya, mereka mampu melewati setiap ujian yang diberikan. Saya mencintainya keduanya, dan begitu mencintai bagaimana keduanya saling menyayangi satu sama lain. Semoga keduanya tak hanya hidup bersama di dunia, juga di akhirat kelak. Di sebuah rumah penuh bunga-bunga di dalam firdaus-Nya.



Rasanya, ingin bertanya pada dua cangkir bisu itu, pada sisa-sisa ampas kopi yang tersisa didasar gelas. Tentang cerita cinta yang disaksikannya bertahun-tahun lamanya.

Happy Anniversary 33rd Bun, Be. Semoga kalian semakin mencintai dan dicintai Allah seiring semakin besarnya cinta kalian satu sama lain.

S, 10 Januari 2015

Saturday, 3 January 2015

Review Novel: Omen #6 Sang Pengkhianat by Lexie Xu



Akhirnya kesampaian juga beli novel ke 6 serial omen ini. Maklumlah harganya lumayan menguras kantong anak kos, khususnya anak kos yang gak pandai ngatur uang boros tapi doyan jajan seperti saya #abaikan. Oke mungkin beberapa dari kalian mungkin berfikir kalau nyewa atau minjem lebih ekonomis timbang beli dan cuman sekali di baca. Tapi saya sarankan untuk yang belum pernah membaca sama sekali untuk nabung buat beli dari yang pertama karena mungkin untuk membaca serial bersambung ini kalian akan lupa satu dua peristiwa atau tertarik ingin membaca kembali beberapa kasus di buku sebelumnya. Bukannya bermaksud promosi cuman novel bergenre thriller remaja ini memang sangat-sangat tidak mengecewakan untuk dikoleksi. Oke sebelum saya mulai ngoceh lagi, ada baiknya kita baca sinopsisnya dulu:

Judul: Omen #6: Sang Pengkhianat
Penulis: Lexie Xu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Thriller
ISBN: 9786020309002

Sinopsis:
File 6 : Kasus Penjahit Manusia dengan Korban Atlet-Atlet Unggulan Pekan Olahraga

Tertuduh : Kami. Yep, kalian tidak salah baca. Kami-kami yang seharusnya menyelidiki kasus ini malah menjadi tertuduh lantaran ada beberapa saksi yang mengatakan mereka melihat kami di tempat kejadian. Tentu saja kami tidak sudi pasrah dengan situasi ini dan bertekad untuk menyelidikinya. Kecurigaan kami jatuh pada dua cewek paling jahat di sekolah kami: Nikki dan Eliza. Tambahan lagi, kini mereka mendapat bantuan dari Damian Erlangga sang pangeran iblis, serta mantan sobat kami yang kini menjadi musuh bebuyutan kami: Erika Guruh.

Fakta-fakta : Pada hari-hari menjelang Pekan Olahraga, atlet badminton unggulan sekolah kami ditemukan di lapangan badminton dalam kondisi tidak sadar dengan mata, mulut, dan anggota badan terjahit rapat. Saksi mata berupa sahabat korban mengatakan dia melihat Rima berkeliaran di dekat lapangan pada saat kejadian. Di siang hari, pada hari yang sama, kapten tim futsal ditemukan mengalami kejadian tragis yang sama, dan kali ini orang-orang melihat Putri Badai melarikan diri dari tempat kejadian. Keesokan harinya ada “tips tepercaya” yang mengatakan Aya akan melakukan kejahatan berikutnya, dan sebelum kami sempat melakukan sesuatu Aya sudah ditahan polisi.

Misi kami : Menemukan pelaku sebenarnya sebelum kami dihukum untuk perbuatan yang tidak kami lakukan.

Penyidik kasus,
Valeria Guntur, Rima Hujan, Putri Badai, dan Aria Topan

Saya adalah salah satu penggemar novel milik kalex. Bahkan saya memasukan novel beliau dalam daftar novel yang wajib ditunggu dan dibeli. Setelah membaca 4 serial johan saya tidak melewatkan sedkitpun serial omen ini. Kasus dalam novel ini benar-benar nyeremin, bahkan hanya membayangkan saja saya bergidk ngeri. Penjahitan manusia, yaitu atlet-atlet unggulan sekolah ketika mendekati pekan olahraga.  mata, mulut, tangan.Bisa dibayangkan dong, kalau itu korban sadar dan membuka mata dan mulutnya apa yang terjadi? sayangnya kesadisan kasus ini kurang dapet penyelesaian yang greget. Mungkin memang karena serial omen kali ini tidak difokuskan untuk membahas itu. Karena ini adalah serial kedua dari terakhir (omen mempunyai 7 sekuel) dan dalang dari setiap peristiwa telah terbongkar sebelumnya cerita lebih banyak berisi lanjutan motif dan alasan dari mengapa dan kenapa serta sangkut paut dari satu tokoh dan tokoh lain, juga melanjutkan cerita erika yang sudah pulang ke rumah dan berbaikan dengan eliza.Nah disini yang jadi penghianat itu ya si erika ini. Erika membuat kesepakatan dengan eliza untuk tidak lagi berteman dengan teman-teman lama mereka dan hanya berteman berdua saja.
Satu hal yang menurut saya agak menganggu dari novel setebal 466 halaman ini adalah pengulang penjelasan dari buku-buku sebelumnya, seperti hobi Daniel bermain poker. Untuk beberapa hal mungkin itu perlu karena pembaca mungkin lupa namun karena banyak terjadi pengulangan cerita membuat beberapa bagian saya skip. Kalau kalex bisa sedikit meringkas cerita tersebut mungkin novel akan jauh lebih tipis dan murah (maunya hehe)
Kelebihan novel ini banyak banget, gak heran sih kak lexie memang salah satu penulis novel beken dan salah satu penulis favorit saya. Cara penuisan ok,gak bikin bosen ada saat tegang, humor, romantis. Semuanya pas banget untuk membuat terus membuka lembaran berikutnya lagi dan lagi. Nah pasangan favorit saya disini selain vik dan erika tentu saja, adalah badai dan demian. Soswit bangeeeeet, Walaupun cerita demian-badai ini lebih banyak dibahas di omen 5 tapi di omen 6 tetap dapat tempat kok hehe, walaupun kisah cintanya lebih difokuskan pada OJ-Aya-Gil.

"Jaga dia baik-baik," kata Demian seraya mengangsurkan putri padaku.
"Gue udah bilang sama Rima, tapii sekarang gue akan bilang sama elo, Aya. Kalo ada bajingan yang berani nyakiti Putri, kalian harus ngasi tau gue,"
Aku menatapnya lekat-lekat. "Orang yang paling nyakitin Putri kan elo."
Damian mengalihkan tatapannya padaku, lalu tersenyum. "Suatu saat, kalo saatnya tiba nanti, biar Putri yang ambil nyawa gue."
(Dialog Demian dan Aya tentang Badai. #fav)

Tanpa perlu berpanjanglebar lagi saya acungin 4 jempol buat kalex

*luna
4,8/5