mari duduk manis disisiku, kita dengar cerita tentang betapa bulan selalu berupaya benderang pada redup sinarnya.
Friday, 12 December 2014
Short Story: Hujani Nanda
Jumat siang. Jam dinding berdentang sekali membuat Hujani Nanda berlari-lari kecil menuju teras rumah, tak perduli di luar sedang turun hujan. Tangan mungilnya meraih sepasang sepatu di rak sebelum ia menjatuhkan diri di tangga teras. Tangannya menggapai-gapai udara, merasakan satu dua tempias hujan yang selalu di sukainya. Ia menarik nafas panjang, sebentar lagi pikirnya dalam hati. Senyumannya semakin melebar ketika sayup-sayup terdengar suara sepeda motor yang bunyinya dihafalnya di luar kepala. Ia menundukan kepala ketika sepeda motor itu melintas. Pura-pura sibuk mengikat tali sepatu. Beberapa detik kemudian kepalnya sontak mendongak, melihat punggung si pengendara menjauh dan hilang di belokan. Beberapa detik yang sederhana, beberapa detik yang menurut orang biasa saja. Namun beberapa detik tadi cukup membuat membuat Hujani Nanda terus tersenyum melewati sisa harinya. Ya, bahagia selalu sederhana itu untuknya.
Selalu. Dihari yang sama dan jam yang sama. Jam satu lewat lima menit kau akan menemukan gadi muda itu duduk di teras rumah. Karena lelaki yang bernama Awan Mendung akan melintas melewati rumahnya sepulang dari sholat jumat di masjid tak jauh dari rumahnya. Jika sedang beruntung mereka akan berpapasan di hari dan waktu lain. Entah saat dia menyapu dihalaman dan Awan lewat mengendarai sepeda motornya. Amat sangat lucu ketika mata keduanya tak sengaja bertemu. Maka si awan akan tersenyum, menerbangkan kelembut-lembutan dari mata teduhnya, yang akan dibalas dengan senyum sekilas dan tundukan cepat oleh si gadis muda.
Rumah lelaki itu terletak di bagian belakang gangnya, terpisah sekitar enam atau tujuh rumah dari rumah si gadis muda. Jika kau tanya kapan si gadis muda mulai jatuh cinta dia akan menggeleng tidak tau sambil tersenyum malu-malu. Mungkin saat Awan menawarkan mengantar si gadis muda ke sekolah karena angkutan umum yang ditunggu si gadis muda tak kunjung datang, padahal saat itu jam nyaris berdetak tujuh kali, waktu dimana anak sekolah sudah harus masuk. Atau mungkin saat pertama mereka bercakap tentang buku pelajaran yang ingin si gadis muda pinjam.
Tapi jika kau tanya kenapa gadis muda bisa jatuh cinta, dia akan bercerita dengan seru dan mengebu-gebu. Bahwa pada mata teduh awan itulah hatinya jatuh. Sekali. Tanpa bisa bangkit lagi. Pada semua kesederhanaan Awan yang membuat dirinya tak pernah sederhana di mata si gadis muda.
Seperti namanya, Awan mendung selalu menghantarkan hujan bersama kesejukan ketika panas matahari tak pernah mampu dengan baik dihadapi gadis muda. Hujan yang selalu di tunggu-tunggu dan disukai gadis muda.
Lalu sampai kapankah gadis muda akan jatuh cinta? Pertanyaan ini yang sampai sekarang belum mampu dijawab gadis muda. Entahlah, yang jelas di bahagia. Bahagia mencintai Awan mendungnya. Dan itu jelas yang terpenting dari segalanya. Memiliki? Tentu saja mencintai berbeda dengan memiliki. Hanya orang egois saja yang kerap mencampuradukannya, atau menjadikan keduanya harus sepaket ketika merasakan yang pertama
***
Jumat siang. Jam berdetak satu kali. Awan Mendung melangkahkan kaki keluar dari masjid dan langsung disambut oleh hujan yang merintik. Boro-boro marah karena hujan membuat tubuhnya basah ia malah tersenyum. Membuat mata teduhnya menyipit dan menampakkan deretan gigi putih miliknya. Hujan selalu mampu membuatnya ingat pada seseorang yang bernama sama. Hujani Nanda.
Rumah gadis itu berada tengah gang, terpisah 6 sampai 7 rumahnya dari miliknya yang agak di belakang. Jika kau tanya kapan Awan Mendung mulai jatuh cinta dia akan menjawab dengan senyum simpul. Tau jawabannya, namun enggan memberitahu. Bisa jadi saat melihat bagaimana cara Hujani Nanda menemani adiknya bermain atau mungkin saat melihatnya berdiri di teras rumah, memandang hujan dengan wajah bahagia.
Tapi jika kau tanya mengapa Awan Mendung bisa jatuh cinta ia akan tertawa, membuat lesung pipitnya yang tak terlalu dalam itu terlihat. Bahwa pada gadis mungil penyuka hujan itu hatinya telah jatuh. Berkali-kali. Tanpa pernah tau caranya berhenti. Pada setiap kesederhaan yang ada di gadis muda, yang membuatnya tak pernah bisa untuk disederhanakan.
Seperti namanya. Hujani Nanda selalu mampu memberikan kesejukan lewat rintik hujannya, membuatnya tersadar bahwa hidup akan tetap selalu berjalan baik karena percaya Sang Pencipta Maha Baik.
Lalu sampai kapan Awan Mendung akan terus jatuh cinta? Ia tersenyum sembari mendongak menatap rintik-rintik hujan yang belum lagi reda. Hanya Maha Pemberi Cinta yang tau akan sampai kapan rasa ini dipendamnya. Sebab IA yang menanamkan cintan di tiap-tiap hati manusia, IA juga yang berhak mengambilnya kembali. Dan yang terpenting ia bahagia, bahagia mencintai hujannya.
Awan Mendung menarik nafas panjang lalu mulai melangkah, menaiki sepeda motornya. Ia tak boleh terlambat, takut gadis mungilnya sudah berangkat menjemput ibunya. Ya, jam satu lewat lima adalah jadwal ibunya yang bekerja di catering selesai bekerja. Alih-alih mempercepat laju motornya agar tubuhnya tak terlalu basah oleh hujan ia malah memperlambatnya ketika mendekati rumah gadis muda. Membuat tubuhnya semakin basah oleh hujan. Gadis itu tengah duduk di tangga teras ketika ia lewat, menunduk. Entah apa yang sedang dilakukannya. Ketika Awan Mendung sampai di rumah ia tak langsung masuk, melainkan membawa kakinya melangkah ke depan rumah. Hal yang menjadi kebiasannya entah sejak jumat yang mana. Ia tersenyum ketika matanya menangkap Hujani Nanda mengeluarkan motor dari halaman rumahnya, memakai helm dan melesat pergi. Ditatapnya baik-baik punggung yang menjauh itu hingga hilang di belokan depan gang.
Mungkin bagi beberapa orang tak ada yang istimewa dari beberapa detik tadi, biasa saja. Namun bagianya itu berharga, sebab ia bahagia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment