Aku melewati rumah ini. Lagi. Seperti
biasa, pemandangan di depan pagar selalu sama, penuh dengan pria yang tengah
menunggu. Duduk bersila beralaskan tanah. Jumlah mereka tak menentu. Terkadang
hanya ada satu dua orang, lalu bertambah. Tapi tak jarang berkurang atau bahkan
tidak ada sama sekali. Sebagian dari mereka ada yang hanya sebentar, sekadar
singgah untuk memerhatikan bentuk rumah, lalu pergi. Ada juga yang berhari-hari
berbulan bahkan bertahun. Terkadang, beberapa dari mereka coba mengintip dari pagar
yang hanya sebatas pinggang orang itu. Menerka-nerka. Selalu menerka-nerka apa
yang ada di dalam rumah yang selalu tertutup sempurna itu. Jika kau tanya siapa
pemiliknya. Ada. Seorang perempuan cantik. Ia sama seperti perempuan lain.
Punya kehidupan dan dunianya sendiri. Jika keluar dari rumah ia selalu lewat
garasi yang dibuka sedikit, lalu melangkah anggun keluar pagar setelah
memastikan garasinya tertutup kembali dengan sempurna.
Ketika saat itu tiba semua orang yang
menunggu akan bangkit dari duduknya, mencoba menarik perhatian si perempuan
sebisanya. Namun, sebesar apapun upaya mereka si perempuan hanya akan
mengangguk sedikit seraya tersenyum, sebelum akhirnya meninggalkan mereka
dengan kekecewaan karena harapan yang mereka ada-adakan sendiri. Aku tersenyum
melihat tingkah perempuan itu, lalu memutuskan berjalan mendekati seorang
penunggu.
"Bagaimana sobat, apakah usahamu
berhasil?" ia menggeleng lalu membuang nafas.
"Aku sudah lama berada disini,
seperti yang lain aku harap aku bisa membuka pintu rumah itu lalu tinggal
didalamnya."
"Apakah yang membuat begitu
ingin, sobat? bukankah banyak rumah yang lain yang lebih bagus untuk
ditinggali?"
"Maksudmu seperti rumah
itu?" pria itu menunjuk sebuah rumah tepat di depan kami. Tepat
bersebrangan dengan rumah tempat kami berada. Aku sontak mengalihkan pandangan,
mengikuti jari telunjuk pria itu. Rumah itu cantik dan lumayan besar. Dari luar
tampak begitu menawan, mengundang banyak orang untuk masuk. Pintunya dibiarkan
terbuka begitu saja. Lebar-lebar tanpa ada sedikitpun keamanan, sehingga setiap
orang bisa melihat langsung ke dalamnya. Terlihat dalamnya begitu kotor, penuh
sampah para pria yang sedang duduk merokok dan mengobrol bersama pemilik rumah.
Beberapa perabotan juga sudah tampak rusak karena telah digunakan terlebih
dahulu oleh para orang-orang yang tak berhak menggunakannya. Dindingnya retak
dan atapnya tampak bocor jika hujan. Para pria yang datang silih berganti,
bahkan banyak diantara mereka yang tak diterima di rumah ini berpindah menuju
rumah sebelah. Reaksi pemilik rumah? Tampak tidak perduli, sebab mungkin ia
merasa jika bagian luar sudah tampak baik maka tak terlalu perlu membenahi yang
dalam. Menurut pengamatanku hanya tinggal menunggu waktu segala bentuk barang
dirumah itu hancur, dan ketika waktu itu datang akan tiada lagi yang bersedia
tinggal disana. Mana ada pria yang mau tinggal di rumah yang sudah tak jelas
isinya.
"Apa kau termasuk para pria yang
menunggu perempuan itu membuka pintu rumahnya?" pria tadi bertanya padaku,
membuka perhatianku yang semula pada rumah itu menujunya. Aku tersenyum. Pria
tadi kembali berbicara tanpa ingin mendengar jawabanku.
"Kau tau, yang unik dari rumah
ini adalah ia meyajikan bentuk dan warna berbeda bagi tiap-tiap pasang mata
yang melihatnya."
"Oh ya? berbeda seperti
apa?"
"Begini, bagi sebagian orang
rumah itu bercat hitam pekat, dengan jendela gelap. Tidak menarik. Tapi
walaupun begitu mereka tetap penasaran apa yang disembunyikan pemilik rumah di
dalamnya hingga ikut menjadi penunggu disini. Sementara aku melihat rumah ini
seperti berada tepi pantai, sebab cat birunya mampu membuat nyaman dan betah.
Lalu masih banyak lagi warna-warna lain yang dilihat masing-masing orang."
"Lalu kalian para penunggu, apa
usaha yang telah kalian lakukan untuk dapat masuk ke dalam rumah itu?"
tanyaku lagi.
"Perempuan itu memberi kesempatan
kepada kami bisa masuk, kami harus membawa satu barang yang dapat melengkapi
rumah itu. Tapi sampai sekarang tak ada yang berhasil menemukan barang yang
tepat karena belum ada yang bisa masuk ke dalam rumah itu." Aku mengangguk
mendengar jawaban pria tadi lalu memutuskan tidak bertanya lagi.
Sore pun datang, menjemput si perempuan
pulang dari aktifitasnya. Aku yang telah menunggu di depan jalan tempat
rumahnya berada pun berjalan mendekatinya. Tidak terlalu dekat, asal cukup
untuk melontarkan beberapa pertanyaan?
“Kenapa kau kunci begitu rapat
rumahmu?” Dia menoleh, tampak bingung sejenak namun akhirnya tersenyum dan
menjawab.
“Sebab banyak maling dimana-mana. Aku
takut aku lengah dan mereka masuk dan mengambil segalanya.” Ia kembali
tersenyum setelah mengakhiri penjelasannya.
“Tapi bukankah mereka tamu baik-baik
yang ingin masuk dengan cara baik-baik juga?” Tanyaku lagi.
“Aku tidak tahu yang benar-benar
serius dari mereka atau yang hanya ingin main-main. Yang datang dan menunggu
atau yang hanya ingin singgah karena penasaran dan mendengar berita dari yang
lain. Aku sungguh tak penah meminta mereka tinggal untuk menunggu pun tak
pernah melarang mereka untuk pergi. Aku hanya ingin menjaga rumahku tetap
bersih dan baik untuk yang akan tinggal menetap di sana. Memastikannya bebas
dari segala orang yang hanya datang untuk singgah sebentar dan mengacau, maka
dari itu aku membuat syarat sederhana: Jika
ingin masuk bawalah barang untuk melengkapi rumahku.” Aku mengerutkan kening.
Bingung mendengar kalimat terakhir perempuan itu.
“Tapi bukankah rumahmu terlihat
berbeda-beda di mata mereka. Ada yang bilang warnanya hitam, ada yang bilang
berada di tepi laut dan macam-macam lagi lainnya. Bagaimana? Bagaimana bisa
mereka tau apa yang dibutuhkan rumahmu?"
“Mungkin mereka hanya melihat
menggunakan mata. Aku yakin akan ada pria yang kelak tau apa yang harus
dibawanya untuk mengisi ketiadaan di rumah milikku. Sudah cukup kan? aku harus
pulang."
Aku mengangguk membiarkan dia berlalu
pergi. Ketika melihat punggungnya hilang di belokan aku pun melangkahkan kaki
ke rumah milikku sendiri. Rumah dengan pagar setinggi dagu orang dewasa, ketika
membuka pagar beberapa gadis datang mendekati. Namun aku hanya tersenyum
sedikit dan memutuskan cepat-cepat masuk. Tak ada waktu meladeni mereka. Aku
harus bersiap untuk datang ke rumah perempuan itu lagi esok hari. Membawa
barang yang dibutuhkan rumah itu. Tirai.
Banyak tirai untuk menutupi semua ruangan. Sebab rumah itu berdinding kaca
tembus pandang. Tentu saja itu yang paling kami butuhkan jika ingin tinggal
di sana.
***
semoga
mampu dipahami
*luna

No comments:
Post a Comment