Friday, 5 September 2014

Short Story: Rumah

                       


Aku melewati rumah ini. Lagi. Seperti biasa, pemandangan di depan pagar selalu sama, penuh dengan pria yang tengah menunggu. Duduk bersila beralaskan tanah. Jumlah mereka tak menentu. Terkadang hanya ada satu dua orang, lalu bertambah. Tapi tak jarang berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Sebagian dari mereka ada yang hanya sebentar, sekadar singgah untuk memerhatikan bentuk rumah, lalu pergi. Ada juga yang berhari-hari berbulan bahkan bertahun. Terkadang, beberapa dari mereka coba mengintip dari pagar yang hanya sebatas pinggang orang itu. Menerka-nerka. Selalu menerka-nerka apa yang ada di dalam rumah yang selalu tertutup sempurna itu. Jika kau tanya siapa pemiliknya. Ada. Seorang perempuan cantik. Ia sama seperti perempuan lain. Punya kehidupan dan dunianya sendiri. Jika keluar dari rumah ia selalu lewat garasi yang dibuka sedikit, lalu melangkah anggun keluar pagar setelah memastikan garasinya tertutup kembali dengan sempurna.
Ketika saat itu tiba semua orang yang menunggu akan bangkit dari duduknya, mencoba menarik perhatian si perempuan sebisanya. Namun, sebesar apapun upaya mereka si perempuan hanya akan mengangguk sedikit seraya tersenyum, sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan kekecewaan karena harapan yang mereka ada-adakan sendiri. Aku tersenyum melihat tingkah perempuan itu, lalu memutuskan berjalan mendekati seorang penunggu. 
"Bagaimana sobat, apakah usahamu berhasil?" ia menggeleng lalu membuang nafas. 
"Aku sudah lama berada disini, seperti yang lain aku harap aku bisa membuka pintu rumah itu lalu tinggal didalamnya."
"Apakah yang membuat begitu ingin, sobat? bukankah banyak rumah yang lain yang lebih bagus untuk ditinggali?"
"Maksudmu seperti rumah itu?" pria itu menunjuk sebuah rumah tepat di depan kami. Tepat bersebrangan dengan rumah tempat kami berada. Aku sontak mengalihkan pandangan, mengikuti jari telunjuk pria itu. Rumah itu cantik dan lumayan besar. Dari luar tampak begitu menawan, mengundang banyak orang untuk masuk. Pintunya dibiarkan terbuka begitu saja. Lebar-lebar tanpa ada sedikitpun keamanan, sehingga setiap orang bisa melihat langsung ke dalamnya. Terlihat dalamnya begitu kotor, penuh sampah para pria yang sedang duduk merokok dan mengobrol bersama pemilik rumah. Beberapa perabotan juga sudah tampak rusak karena telah digunakan terlebih dahulu oleh para orang-orang yang tak berhak menggunakannya. Dindingnya retak dan atapnya tampak bocor jika hujan. Para pria yang datang silih berganti, bahkan banyak diantara mereka yang tak diterima di rumah ini berpindah menuju rumah sebelah. Reaksi pemilik rumah? Tampak tidak perduli, sebab mungkin ia merasa jika bagian luar sudah tampak baik maka tak terlalu perlu membenahi yang dalam. Menurut pengamatanku hanya tinggal menunggu waktu segala bentuk barang dirumah itu hancur, dan ketika waktu itu datang akan tiada lagi yang bersedia tinggal disana. Mana ada pria yang mau tinggal di rumah yang sudah tak jelas isinya.
"Apa kau termasuk para pria yang menunggu perempuan itu membuka pintu rumahnya?" pria tadi bertanya padaku, membuka perhatianku yang semula pada rumah itu menujunya. Aku tersenyum. Pria tadi kembali berbicara tanpa ingin mendengar jawabanku.
"Kau tau, yang unik dari rumah ini adalah ia meyajikan bentuk dan warna berbeda bagi tiap-tiap pasang mata yang melihatnya."
"Oh ya? berbeda seperti apa?"
"Begini, bagi sebagian orang rumah itu bercat hitam pekat, dengan jendela gelap. Tidak menarik. Tapi walaupun begitu mereka tetap penasaran apa yang disembunyikan pemilik rumah di dalamnya hingga ikut menjadi penunggu disini. Sementara aku melihat rumah ini seperti berada tepi pantai, sebab cat birunya mampu membuat nyaman dan betah. Lalu masih banyak lagi warna-warna lain yang dilihat masing-masing orang."
"Lalu kalian para penunggu, apa usaha yang telah kalian lakukan untuk dapat masuk ke dalam rumah itu?" tanyaku lagi.
"Perempuan itu memberi kesempatan kepada kami bisa masuk, kami harus membawa satu barang yang dapat melengkapi rumah itu. Tapi sampai sekarang tak ada yang berhasil menemukan barang yang tepat karena belum ada yang bisa masuk ke dalam rumah itu." Aku mengangguk mendengar jawaban pria tadi lalu memutuskan tidak bertanya lagi.
      Sore pun datang, menjemput si perempuan pulang dari aktifitasnya. Aku yang telah menunggu di depan jalan tempat rumahnya berada pun berjalan mendekatinya. Tidak terlalu dekat, asal cukup untuk melontarkan beberapa pertanyaan?
“Kenapa kau kunci begitu rapat rumahmu?” Dia menoleh, tampak bingung sejenak namun akhirnya tersenyum dan menjawab.
“Sebab banyak maling dimana-mana. Aku takut aku lengah dan mereka masuk dan mengambil segalanya.” Ia kembali tersenyum setelah mengakhiri penjelasannya.
“Tapi bukankah mereka tamu baik-baik yang ingin masuk dengan cara baik-baik juga?” Tanyaku lagi.
“Aku tidak tahu yang benar-benar serius dari mereka atau yang hanya ingin main-main. Yang datang dan menunggu atau yang hanya ingin singgah karena penasaran dan mendengar berita dari yang lain. Aku sungguh tak penah meminta mereka tinggal untuk menunggu pun tak pernah melarang mereka untuk pergi. Aku hanya ingin menjaga rumahku tetap bersih dan baik untuk yang akan tinggal menetap di sana. Memastikannya bebas dari segala orang yang hanya datang untuk singgah sebentar dan mengacau, maka dari itu aku membuat syarat sederhana: Jika ingin masuk bawalah barang untuk melengkapi rumahku.” Aku mengerutkan kening. Bingung mendengar kalimat terakhir perempuan itu.
“Tapi bukankah rumahmu terlihat berbeda-beda di mata mereka. Ada yang bilang warnanya hitam, ada yang bilang berada di tepi laut dan macam-macam lagi lainnya. Bagaimana? Bagaimana bisa mereka tau apa yang dibutuhkan rumahmu?"
Mungkin mereka hanya melihat menggunakan mata. Aku yakin akan ada pria yang kelak tau apa yang harus dibawanya untuk mengisi ketiadaan di rumah milikku. Sudah cukup kan? aku harus pulang."
Aku mengangguk membiarkan dia berlalu pergi. Ketika melihat punggungnya hilang di belokan aku pun melangkahkan kaki ke rumah milikku sendiri. Rumah dengan pagar setinggi dagu orang dewasa, ketika membuka pagar beberapa gadis datang mendekati. Namun aku hanya tersenyum sedikit dan memutuskan cepat-cepat masuk. Tak ada waktu meladeni mereka. Aku harus bersiap untuk datang ke rumah perempuan itu lagi esok hari. Membawa barang yang dibutuhkan rumah itu. Tirai. Banyak tirai untuk menutupi semua ruangan. Sebab rumah itu berdinding kaca tembus pandang. Tentu saja itu yang paling kami butuhkan jika ingin tinggal di sana.





***
semoga mampu dipahami 
*luna



No comments:

Post a Comment