mari duduk manis disisiku, kita dengar cerita tentang betapa bulan selalu berupaya benderang pada redup sinarnya.
Friday, 12 December 2014
Review Novel: Interlude by Windry Ramadhina
Well novel interlude ini adalah novel ketiga Mbak Windry Ramadhina yang saya baca setelah Montase dan Landon. Setelah begitu lama tak berkunjung ke toko buku, saya menemukan novel ini pada rak covernya didominasi warna laut dan cukup menarik minat mata untuk berhenti dan membaca sinopsis yang ada dibelakang.
Hanna,
listen.
Don't cry, don't cry.
The world is envy.
You're too perfect
and she hates it.
Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak.
Kemarilah, aku akan menjagamu,
asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.
"Waktu tidak berputar ulang. Apa yang sudah hilang,
tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang."
Aku ingat kata-katamu itu. Masih terpatri di benakku.
Aku tidak selamanya berengsek.
Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?
Kilat rasa tidak percaya di matamu,
membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri.
Tapi, sungguh, aku mencintaimu,
merindukan manis bibirmu.
Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya?
Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?
Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah....
Seperti biasa kemampuan mbak Windry merangkai kata tidak perlu diragukan lagi, bagi kalian yang sedang berupaya menulis novel sangat saya sarankan untuk membaca novel-novel karya mbak Windry untuk belajar merangkai kalimat. Kata-kata yang beliau rangkai sederhana namun selalu sarat makna, membuat kita ingin membaca lagi dan lagi. Interlude sendiri bercerita tentang Hanna seorang mahasisiwi jurusan jurnalistik yang memulai kembali kuliah setelah vakum selama satu tahun karena trauma masa lalu yang membuatnya mengurung dan membatasi diri dari dunia luar. Hidupnya dipenuhi ketakutan dan bayang-bayang masa lalu hingga ia bertemu Kai, seorang pria yang nyaris di DO dari kuliahnya, tidak memiliki tujuan hidup dan hobi main perempuan. Kai lahir dari orangtua yang tidak lagi memiliki cinta.
Hanna tidak menolak. Dia mengikuti Kai tanpa berkata apa pun. Dia takut, khawatir Kai akan melakukan sesuatu terhadap dirinya jika ajakan tersebut tidak ditanggapi. Seperti itulah dia memandang lelaki selama satu tahun belakangan. Makhluk yang berbahaya. ( halaman 85)
Dari segi konflik memang masalah yang diangkat sangat klise, gadis penakut yang bertemu pria berantakan yang begitu penasaran dengannya. Kai berusaha menghilangkan trauma masa lalu milik Hanna. Sudah banyak novel yang menceritakan ini hingga alur mudah sekali tertebak. Beberapa konflik lain pun tidak cukup kuat untuk mengimbangi konflik utama. Kai sebagai anak yang mempunyai orangtua yang nyaris bercerai, terlalu basi sebenarnya. Juga Gita, seorang sahabat Key yang entah mengapa konfliknya tak beda jauh dengan milik Hanna dimasa lalu, sehingga membuat konflik yang ditampilkan nyaris sama. Sementara konflik milik Hanna sendiri tidak dikupas begitu dalam. Seperti halnya dalam masakan memiliki banyak jenis bumbu yang sebenarnya dapat menghasilkan masakan yang enak namun masih kurang asin karena kurang garam.
Salah satu kelebihan novel ini karakter dari masing-masing tokoh dibangun sangat kuat, saya begitu gregetan dengan karakter Hanna dalam novel ini yang dibuat sedemikian rupa, itu merupakan bukti keberhasilan penulis menciptakannya. Salah satu karakter yang saya sukai adalah Jun, teman baik Gita dan Kai. Tipe penengah yang memiliki kharisma juga tidak merokok. Musik jaz yang diangkat dalam novel ini juga memberikan udara segar, dengan detail yang diracik begitu pas. Tidak begitu berlebihan namun cukup untuk saya memberikan dua jempol bagi mbak Windry dalam mencari bahan tentang musik tersebut. Saya suka sekali dengan judul dari setiap bab dalam novel ini. Walau hanya terdiri dalam sepatah atau dua patah kata namun begitu sarat makna.
Pemuda itu mengerti sekarang.
Dia tidak berdaya. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk Hanna. Cintanya tidak akan menyelamatkan gadis itu. Laut yang ditawarkan, ternyata, tidak cukup. Dan, kenyatan ini menyakitkan. (Halaman 293)
Saya selalu menyukai novel yang memiliki keterkaitan antara satu karakter dengan karakter lain dalam hal apapun. Dalam artian seperti ini Hanna adalah penyuka laut dan arti nama Kai adalah laut. Entah mengapa saya selalu berfikit bahwa dalam kehidupan nyata itu adalah campur tangan semesta yang begitu indah. Dan novel ini memiliki itu.
Walaupun secara keseluruhan saya harus mengatakan bahwa saya lebih menyukai novel London daripada novel ini saya tetap menganggap interlude sebagai koleksi yang tidak mengecewakan.
3,5/5
*luna
Short Story: Hujani Nanda
Jumat siang. Jam dinding berdentang sekali membuat Hujani Nanda berlari-lari kecil menuju teras rumah, tak perduli di luar sedang turun hujan. Tangan mungilnya meraih sepasang sepatu di rak sebelum ia menjatuhkan diri di tangga teras. Tangannya menggapai-gapai udara, merasakan satu dua tempias hujan yang selalu di sukainya. Ia menarik nafas panjang, sebentar lagi pikirnya dalam hati. Senyumannya semakin melebar ketika sayup-sayup terdengar suara sepeda motor yang bunyinya dihafalnya di luar kepala. Ia menundukan kepala ketika sepeda motor itu melintas. Pura-pura sibuk mengikat tali sepatu. Beberapa detik kemudian kepalnya sontak mendongak, melihat punggung si pengendara menjauh dan hilang di belokan. Beberapa detik yang sederhana, beberapa detik yang menurut orang biasa saja. Namun beberapa detik tadi cukup membuat membuat Hujani Nanda terus tersenyum melewati sisa harinya. Ya, bahagia selalu sederhana itu untuknya.
Selalu. Dihari yang sama dan jam yang sama. Jam satu lewat lima menit kau akan menemukan gadi muda itu duduk di teras rumah. Karena lelaki yang bernama Awan Mendung akan melintas melewati rumahnya sepulang dari sholat jumat di masjid tak jauh dari rumahnya. Jika sedang beruntung mereka akan berpapasan di hari dan waktu lain. Entah saat dia menyapu dihalaman dan Awan lewat mengendarai sepeda motornya. Amat sangat lucu ketika mata keduanya tak sengaja bertemu. Maka si awan akan tersenyum, menerbangkan kelembut-lembutan dari mata teduhnya, yang akan dibalas dengan senyum sekilas dan tundukan cepat oleh si gadis muda.
Rumah lelaki itu terletak di bagian belakang gangnya, terpisah sekitar enam atau tujuh rumah dari rumah si gadis muda. Jika kau tanya kapan si gadis muda mulai jatuh cinta dia akan menggeleng tidak tau sambil tersenyum malu-malu. Mungkin saat Awan menawarkan mengantar si gadis muda ke sekolah karena angkutan umum yang ditunggu si gadis muda tak kunjung datang, padahal saat itu jam nyaris berdetak tujuh kali, waktu dimana anak sekolah sudah harus masuk. Atau mungkin saat pertama mereka bercakap tentang buku pelajaran yang ingin si gadis muda pinjam.
Tapi jika kau tanya kenapa gadis muda bisa jatuh cinta, dia akan bercerita dengan seru dan mengebu-gebu. Bahwa pada mata teduh awan itulah hatinya jatuh. Sekali. Tanpa bisa bangkit lagi. Pada semua kesederhanaan Awan yang membuat dirinya tak pernah sederhana di mata si gadis muda.
Seperti namanya, Awan mendung selalu menghantarkan hujan bersama kesejukan ketika panas matahari tak pernah mampu dengan baik dihadapi gadis muda. Hujan yang selalu di tunggu-tunggu dan disukai gadis muda.
Lalu sampai kapankah gadis muda akan jatuh cinta? Pertanyaan ini yang sampai sekarang belum mampu dijawab gadis muda. Entahlah, yang jelas di bahagia. Bahagia mencintai Awan mendungnya. Dan itu jelas yang terpenting dari segalanya. Memiliki? Tentu saja mencintai berbeda dengan memiliki. Hanya orang egois saja yang kerap mencampuradukannya, atau menjadikan keduanya harus sepaket ketika merasakan yang pertama
***
Jumat siang. Jam berdetak satu kali. Awan Mendung melangkahkan kaki keluar dari masjid dan langsung disambut oleh hujan yang merintik. Boro-boro marah karena hujan membuat tubuhnya basah ia malah tersenyum. Membuat mata teduhnya menyipit dan menampakkan deretan gigi putih miliknya. Hujan selalu mampu membuatnya ingat pada seseorang yang bernama sama. Hujani Nanda.
Rumah gadis itu berada tengah gang, terpisah 6 sampai 7 rumahnya dari miliknya yang agak di belakang. Jika kau tanya kapan Awan Mendung mulai jatuh cinta dia akan menjawab dengan senyum simpul. Tau jawabannya, namun enggan memberitahu. Bisa jadi saat melihat bagaimana cara Hujani Nanda menemani adiknya bermain atau mungkin saat melihatnya berdiri di teras rumah, memandang hujan dengan wajah bahagia.
Tapi jika kau tanya mengapa Awan Mendung bisa jatuh cinta ia akan tertawa, membuat lesung pipitnya yang tak terlalu dalam itu terlihat. Bahwa pada gadis mungil penyuka hujan itu hatinya telah jatuh. Berkali-kali. Tanpa pernah tau caranya berhenti. Pada setiap kesederhaan yang ada di gadis muda, yang membuatnya tak pernah bisa untuk disederhanakan.
Seperti namanya. Hujani Nanda selalu mampu memberikan kesejukan lewat rintik hujannya, membuatnya tersadar bahwa hidup akan tetap selalu berjalan baik karena percaya Sang Pencipta Maha Baik.
Lalu sampai kapan Awan Mendung akan terus jatuh cinta? Ia tersenyum sembari mendongak menatap rintik-rintik hujan yang belum lagi reda. Hanya Maha Pemberi Cinta yang tau akan sampai kapan rasa ini dipendamnya. Sebab IA yang menanamkan cintan di tiap-tiap hati manusia, IA juga yang berhak mengambilnya kembali. Dan yang terpenting ia bahagia, bahagia mencintai hujannya.
Awan Mendung menarik nafas panjang lalu mulai melangkah, menaiki sepeda motornya. Ia tak boleh terlambat, takut gadis mungilnya sudah berangkat menjemput ibunya. Ya, jam satu lewat lima adalah jadwal ibunya yang bekerja di catering selesai bekerja. Alih-alih mempercepat laju motornya agar tubuhnya tak terlalu basah oleh hujan ia malah memperlambatnya ketika mendekati rumah gadis muda. Membuat tubuhnya semakin basah oleh hujan. Gadis itu tengah duduk di tangga teras ketika ia lewat, menunduk. Entah apa yang sedang dilakukannya. Ketika Awan Mendung sampai di rumah ia tak langsung masuk, melainkan membawa kakinya melangkah ke depan rumah. Hal yang menjadi kebiasannya entah sejak jumat yang mana. Ia tersenyum ketika matanya menangkap Hujani Nanda mengeluarkan motor dari halaman rumahnya, memakai helm dan melesat pergi. Ditatapnya baik-baik punggung yang menjauh itu hingga hilang di belokan depan gang.
Mungkin bagi beberapa orang tak ada yang istimewa dari beberapa detik tadi, biasa saja. Namun bagianya itu berharga, sebab ia bahagia.
Friday, 5 September 2014
Short Story: Rumah
Aku melewati rumah ini. Lagi. Seperti
biasa, pemandangan di depan pagar selalu sama, penuh dengan pria yang tengah
menunggu. Duduk bersila beralaskan tanah. Jumlah mereka tak menentu. Terkadang
hanya ada satu dua orang, lalu bertambah. Tapi tak jarang berkurang atau bahkan
tidak ada sama sekali. Sebagian dari mereka ada yang hanya sebentar, sekadar
singgah untuk memerhatikan bentuk rumah, lalu pergi. Ada juga yang berhari-hari
berbulan bahkan bertahun. Terkadang, beberapa dari mereka coba mengintip dari pagar
yang hanya sebatas pinggang orang itu. Menerka-nerka. Selalu menerka-nerka apa
yang ada di dalam rumah yang selalu tertutup sempurna itu. Jika kau tanya siapa
pemiliknya. Ada. Seorang perempuan cantik. Ia sama seperti perempuan lain.
Punya kehidupan dan dunianya sendiri. Jika keluar dari rumah ia selalu lewat
garasi yang dibuka sedikit, lalu melangkah anggun keluar pagar setelah
memastikan garasinya tertutup kembali dengan sempurna.
Ketika saat itu tiba semua orang yang
menunggu akan bangkit dari duduknya, mencoba menarik perhatian si perempuan
sebisanya. Namun, sebesar apapun upaya mereka si perempuan hanya akan
mengangguk sedikit seraya tersenyum, sebelum akhirnya meninggalkan mereka
dengan kekecewaan karena harapan yang mereka ada-adakan sendiri. Aku tersenyum
melihat tingkah perempuan itu, lalu memutuskan berjalan mendekati seorang
penunggu.
"Bagaimana sobat, apakah usahamu
berhasil?" ia menggeleng lalu membuang nafas.
"Aku sudah lama berada disini,
seperti yang lain aku harap aku bisa membuka pintu rumah itu lalu tinggal
didalamnya."
"Apakah yang membuat begitu
ingin, sobat? bukankah banyak rumah yang lain yang lebih bagus untuk
ditinggali?"
"Maksudmu seperti rumah
itu?" pria itu menunjuk sebuah rumah tepat di depan kami. Tepat
bersebrangan dengan rumah tempat kami berada. Aku sontak mengalihkan pandangan,
mengikuti jari telunjuk pria itu. Rumah itu cantik dan lumayan besar. Dari luar
tampak begitu menawan, mengundang banyak orang untuk masuk. Pintunya dibiarkan
terbuka begitu saja. Lebar-lebar tanpa ada sedikitpun keamanan, sehingga setiap
orang bisa melihat langsung ke dalamnya. Terlihat dalamnya begitu kotor, penuh
sampah para pria yang sedang duduk merokok dan mengobrol bersama pemilik rumah.
Beberapa perabotan juga sudah tampak rusak karena telah digunakan terlebih
dahulu oleh para orang-orang yang tak berhak menggunakannya. Dindingnya retak
dan atapnya tampak bocor jika hujan. Para pria yang datang silih berganti,
bahkan banyak diantara mereka yang tak diterima di rumah ini berpindah menuju
rumah sebelah. Reaksi pemilik rumah? Tampak tidak perduli, sebab mungkin ia
merasa jika bagian luar sudah tampak baik maka tak terlalu perlu membenahi yang
dalam. Menurut pengamatanku hanya tinggal menunggu waktu segala bentuk barang
dirumah itu hancur, dan ketika waktu itu datang akan tiada lagi yang bersedia
tinggal disana. Mana ada pria yang mau tinggal di rumah yang sudah tak jelas
isinya.
"Apa kau termasuk para pria yang
menunggu perempuan itu membuka pintu rumahnya?" pria tadi bertanya padaku,
membuka perhatianku yang semula pada rumah itu menujunya. Aku tersenyum. Pria
tadi kembali berbicara tanpa ingin mendengar jawabanku.
"Kau tau, yang unik dari rumah
ini adalah ia meyajikan bentuk dan warna berbeda bagi tiap-tiap pasang mata
yang melihatnya."
"Oh ya? berbeda seperti
apa?"
"Begini, bagi sebagian orang
rumah itu bercat hitam pekat, dengan jendela gelap. Tidak menarik. Tapi
walaupun begitu mereka tetap penasaran apa yang disembunyikan pemilik rumah di
dalamnya hingga ikut menjadi penunggu disini. Sementara aku melihat rumah ini
seperti berada tepi pantai, sebab cat birunya mampu membuat nyaman dan betah.
Lalu masih banyak lagi warna-warna lain yang dilihat masing-masing orang."
"Lalu kalian para penunggu, apa
usaha yang telah kalian lakukan untuk dapat masuk ke dalam rumah itu?"
tanyaku lagi.
"Perempuan itu memberi kesempatan
kepada kami bisa masuk, kami harus membawa satu barang yang dapat melengkapi
rumah itu. Tapi sampai sekarang tak ada yang berhasil menemukan barang yang
tepat karena belum ada yang bisa masuk ke dalam rumah itu." Aku mengangguk
mendengar jawaban pria tadi lalu memutuskan tidak bertanya lagi.
Sore pun datang, menjemput si perempuan
pulang dari aktifitasnya. Aku yang telah menunggu di depan jalan tempat
rumahnya berada pun berjalan mendekatinya. Tidak terlalu dekat, asal cukup
untuk melontarkan beberapa pertanyaan?
“Kenapa kau kunci begitu rapat
rumahmu?” Dia menoleh, tampak bingung sejenak namun akhirnya tersenyum dan
menjawab.
“Sebab banyak maling dimana-mana. Aku
takut aku lengah dan mereka masuk dan mengambil segalanya.” Ia kembali
tersenyum setelah mengakhiri penjelasannya.
“Tapi bukankah mereka tamu baik-baik
yang ingin masuk dengan cara baik-baik juga?” Tanyaku lagi.
“Aku tidak tahu yang benar-benar
serius dari mereka atau yang hanya ingin main-main. Yang datang dan menunggu
atau yang hanya ingin singgah karena penasaran dan mendengar berita dari yang
lain. Aku sungguh tak penah meminta mereka tinggal untuk menunggu pun tak
pernah melarang mereka untuk pergi. Aku hanya ingin menjaga rumahku tetap
bersih dan baik untuk yang akan tinggal menetap di sana. Memastikannya bebas
dari segala orang yang hanya datang untuk singgah sebentar dan mengacau, maka
dari itu aku membuat syarat sederhana: Jika
ingin masuk bawalah barang untuk melengkapi rumahku.” Aku mengerutkan kening.
Bingung mendengar kalimat terakhir perempuan itu.
“Tapi bukankah rumahmu terlihat
berbeda-beda di mata mereka. Ada yang bilang warnanya hitam, ada yang bilang
berada di tepi laut dan macam-macam lagi lainnya. Bagaimana? Bagaimana bisa
mereka tau apa yang dibutuhkan rumahmu?"
“Mungkin mereka hanya melihat
menggunakan mata. Aku yakin akan ada pria yang kelak tau apa yang harus
dibawanya untuk mengisi ketiadaan di rumah milikku. Sudah cukup kan? aku harus
pulang."
Aku mengangguk membiarkan dia berlalu
pergi. Ketika melihat punggungnya hilang di belokan aku pun melangkahkan kaki
ke rumah milikku sendiri. Rumah dengan pagar setinggi dagu orang dewasa, ketika
membuka pagar beberapa gadis datang mendekati. Namun aku hanya tersenyum
sedikit dan memutuskan cepat-cepat masuk. Tak ada waktu meladeni mereka. Aku
harus bersiap untuk datang ke rumah perempuan itu lagi esok hari. Membawa
barang yang dibutuhkan rumah itu. Tirai.
Banyak tirai untuk menutupi semua ruangan. Sebab rumah itu berdinding kaca
tembus pandang. Tentu saja itu yang paling kami butuhkan jika ingin tinggal
di sana.
***
semoga
mampu dipahami
*luna
Subscribe to:
Comments (Atom)


