Monday, 25 January 2021

Penerimaan Orangtua Sebagai Salah Satu Faktor Penting dalam Proses Terapi.

 

     Tidak terasa sudah satu tahun lamanya menekuni  pekerjaan menjadi seorang terapis anak berkebutuhan khusus. Profesi yang barangkali  jarang dipilih oleh seorang sarjana psikologi seperti saya. Yap, ketika teman-teman saya banyak yang lebih memilih menjadi seorang HR di berbagai perusahaan, saya pun memantapkan diri menekuni profesi ini setelah mendapatkan gelar S.Psi di belakang nama saya.

Bagaimana rasanya? Kalo kata anak tiktok jaman sekarang Ah mantap!  Ditendang? Pernah. Dipukul? Sering. Digigit? Hampir setiap hari. Tapi justru itu tantangannya yang bikin saya selalu semangat tiap bangun pagi dan berpikir hari ini bakalan menghadapi pasien yang seperti itu apa yaaa. Apa saja anak yang saya tangani? Bermacam-macam. Mulai dari paling ringan seperti speech delay murni sampai autis berat, ADHD hingga yang punya gangguan emosi seperti jedotin kepala ke dinding atau lantai setiap kali keinginannya tidak dituruti.

Kali ini saya akan bercerita mengenai sebuah proses terapi di klinik saya. Ya, kami menyebutnya kurang lebih sebagai klinik. Itulah kenapa anak-anak yang menjalani terapi kami sebut pasien. Tesla theraphy center. Fyi, ini satu-satunya klinik di kalbar yang di dalamnya para terapis benar-benar menempuh pendidikan sesuai dengan bidangnya. Jadi saya bersyukur bisa menjadi bagian dari klinik ini. Di dalamnya ada 4 sub terapi yaitu Fisioterapi, Okupasi Terapi, Terapi Wicara dan Terapi Perilaku

Biar saya tebak, pasti yang ada dipikiranmu sekarang “Oh ternyata ada yaaa jurusan begitu saat kuliah?” “Yap, adaaa!” Jadi seorang fisoterapist saat kuliah dulunya mengambil jurusan fisoterapi, begitupula dengan terapis wicara dan terapis okupasi. Saat kuliah keduanya menempuh jurusan okupasi terapi dan terapi wicara. Usut punya usut di Indonesia hanya ada 2 kampus yang punya jurusan okupsi terapi begitu juga dengan jurusan terapi wicara. Itulah kenapa keberadaan terapi wicara dan okupasi terapis super duper langka. Sementara seorang terapis perilaku biasanya berasal dari jurusan psikologi karena teori dasar yang dipakai dalam metode terapi berasal dari teori psikologi.

Nah, sehabis membaca tulisan ini saya harap para orangtua atau siapapun yang sedang mencari tempat terapi bisa kroscek terlebih dahulu ya latar belakang pendidikannya. Buat kamu yang bingung kenapa tadi di awal saya menyebut bahwa sarjana psikologi biasa jadi HR. Saat kuliah kami bisa memilih konsentrasi untuk kami dalami, saya sendiri memilih konsentrasi klinis yang berkutat pada psikologi abnormal.

Okey, back to the topic yaa, saya akan menjelaskan secara ringkas ke 4 terapi yang ada di klinik saya tadi. Dimulai dari terapi perilaku atau behavior theraphy. Terapi perilaku adalah salah satu terapi yang diberikan pada anak berkebutuhan khusus dimana terapi ini difokuskan kepada kemampuan anak merespon terhadap lingkungan dan mengajarkan anak perilaku-perilaku yang umum. Metode yang dipakai dalam terapi ini adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Lvar Lovaas,PhD dan University of California Los Angeles (UCLA). Nah teori dasar dari behavioristik yang digunakan dalam teori ini adalah stimulus-respon. Jadi gampangnya, misalnya ada yang memanggil seharusnya respon yang diberikan anak adalah menoleh. Tujuan dari terapi perilaku adalah menghilangkan perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial, kaya benturin kepala ke dinding atau lantai  dan membangun perilaku-perilaku baru yang secara sosial bermanfaat dan dapat diterima.

Kemudian, fisoterapi yang merupakan ilmu yang menitikberatkan atau menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi gerak atau fungsi alat tubuh yang terganggu untuk kemudian diikuti dengan proses atau metode gerak. Biasanya anak yang mendapat fisoterapi adalah yang punya penyakit yang memengaruhi kondisi fisik seperti celebral palsy, atau terlambat berkembang dalam proses fisik, seperti sudah dua tahun belum bisa berdiri, atau yang memiliki kaki flatfoot.

Selanjutnya, ada okupasi terapi, terapi yang membantu proses mengenal, mengubah, & membedakan sensasi dari system sensori menjadi respon berupa perilaku adaptif yang bertujuan. Terapi ini dapat meningkatkan kemampuan anak seperti koordinasi gerak tubuh, kemampuan motorik kasar dan halus, dan kemampuan mempertahankan atensi dan konsentrasi.

Terakhir adalah terapi wicara, terapi ini fokus terhadap melatih kemampuan anak berbicara, melatih otot mulut, lidah, dan tenggorokan. Setiap klinik tentu memiliki peraturan yang berbeda. Di klinik saya sendiri tidak semua anak diberikan kelas terapi wicara hanya yang sudah mampu mempertahkan fokus, atensi serta memahami perintah dengan baik. Terapis perilaku lah yang bisa memberikan rekomendasi apakah anak sudah bisa diberikan intervensi terapi wicara.

Selama menjadi seorang terapis ga jarang sih orang-orang terdekat konsultasi mengenai adek, kenalan, atau anaknya. Setelahnya nanya kenapa?respon terhadap perintah gimana? Ada riwayat sakit keras gak. Setelah ngasi saran yang sekiranya bisa dilakuin sama orang-orang terdekat si anak, biasanya saya akan menyarankan untuk dilakukan assessment jika berdasarkan cerita si anak sudah mengalami keterlambatan perkembangan. Gimana sih cara tau anak itu punya keterlambatan. Penting banget bagi seorang ibu tau fase dan tugas perkembangan apa aja yang harus dikuasi oleh anak. Sebenarnya banyak banget teori dan fase perkembangan. Tapi saya akan membahas sedikit fase yang agaknya lebih nyaman dipahami oleh para ibu karena hampir semua orangtua yang datang memiliki keluhan anaknya terlambat berbicara.

Tahap pertama, Reflexive Vocalization (Suara Refleks). Bayi normal yang baru dilahirkan sampai kurang lebih berusia tiga minggu, seluruh aktivitasnya masih bersifat refleks. Memasuki minggu ke empat, suara tangisan yang diperdengarkannya akan mulai berbeda. Misalnya akan terdengar berbeda antara tangisan karena lapar atau kedingina.. Perbedaan suara tangisan tersebut tetap masih merupakan peristiwa refleks.  Tahap kedua Babbling (Merabah). Tahap ini dimulai pada bayi usia enam sampai dengan tujuh minggu. Pada tahap ini, bayi seolah-olah senang mengulang-ngulang bunyi yang dibuatnya. Namun hal tersebut masih tergolong aktivitas yang bersifat refleks. Bunyi-bunyi yang dihasilkan dapat terdengar seperti orang berkumur-kumur dan mirip bunyi-bunyi vokal. Pada minggu-minggu selanjutnya terdengar bunyi-bunyi seperti konsonan p, b, g, n, juga m. Yang jika dikombinasikan dengan bunyi-bunyi yang mirip bunyi vokal terdengar seperti suku kata misalnya pa... pa.. ba... ba... ga…ga..

Tahap ketiga yaitu, Lalling (Mengoceh). Beberapa ahli menyebut tahap ini sebagai tahap jargon, dan dimulai pada usia enam bulan. Pada tahap ini bayi sedang melatih dirinya secara sengaja untuk menuju kepengucapan bentuk kata. Bunyi, suara yang diperdengarkan adalah yang benar-benar telah didengarnya. Pada masa ini bayi telah memiliki feedback auditory. Tahap inilah yang menjadi batasan apakah bayi memiliki pendengaran normal atau tunarungu. Bayi dengan tunarungu akan mulai diam atau tidak mengoceh lagi pada tahap ini. 

Tahap keempat, Echolalia (Meniru). Tahap echolalia dimulai pada usia sembilan atau sepuluh bulan. Pada tahap ini terjadi pungulangan suku kata maupun kata yang memiliki makna, anak bukan lagi mengulang-ngulang apa yang dikatakannya sendiri, tapi mengulang apa yang telah didengar dari lingkungannya. Dalam hal meniru apa yang didengarnya, mulai diikuti pula dengan penggunaan gerak tangan dan bahasa tubuh. Namun hal ini belum diiringi dengan pemahaman tentang arti atau makna yang terkandung dari kata-kata yang diujarkannya. Tahap terakhir True Speech (Bicara Benar)
Dimulai dari usia 12-18 bulan, True Speech merupakan tahapan akhir bahasa. Pengertian bicara benar disini adalah bicara anak benar-benar mengandung makna sesungguhnya yang keluar dari pusat bahasa di otak dan mewakili suatu maksud / tujuan. Dalam hal ini, anak sudah mengerti atau memahami makna dari kata yang diujarkannya, dan meskipun artikulasinya masih belum sempurna atau terdengar belum jelas, namun si pendengar dapat menangkap maksud dari apa yang ia ujarkan.

Nah apabila sudah tau bahwa anak memiliki keterlambatan perkembangan, langkah paling baik yang bisa dilakukan adalah melakukan asesmen. Pada proses assement akan dilakukan wawancara dan observasi pada anak. Biasanya setelah dilakukan asesmen, assessor akan akan memberikan rekomendasi terapi apa saja yang dibutuhkan oleh sang anak. Ya, kaya resep gitu sesuai kebutuhan si anak. Nah setelah itu admin akan mencocokan jadwal terapis yang kosong, apabila penuh akan masuk ke daftar tunggu.

Kalau ditanya terus berapa lama sih proses terapi berlangsung dan faktor apa saja yang memengaruhi kesuksesan terapi? Tentunya ada beberapa seperti usia anak saat pertama kali mengikuti terapi, pola asuh orang tua, iq anak, pengulangan kembali materi yang telah diberikan, intesitas datang terapi hingga beratnya gangguan atau hambatan yang dialami anak. Saya pernah megang anak dengan kasus speech delay dengan pengalaman traumatik. 2 minggu pertama nangis-nangis hebat. Tidak mau duduk atau bergerak. Selalu berteriak “aduh”. Alhamdulillah setelah 2 bulan si anak bisa lulus dari kelas saya dengan kosa kata cukup banyak. Setelah lulus dari kelas BT, saya rekomendasikan untuk masuk ke TW agar memperlancar kemampuan berbahasanya.

Menurut saya pribadi, salah satu faktor terpenting adalah dukung dari orangtua dan sebuah penerimaan. Yap, penerimaan dari orang tua anak sendiri. Saya yakin naluri seorang ibu itu kuat sekali. Memberi yang terbaik bagi anak tentu menjadi prioritas. Tapi saya juga percaya kalau setiap ibu pasti bisa merasakan jika anaknya berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa ibu yang datang saat usia anaknya sudah 4 tahun namun ada ibu yang membawa anaknya saat usia 2 tahun. Apa pengaruhnya terhadap keberhasilan terapi?

Saya rasa semua ibu kesadaran yang sama namun ga semua ibu mampu menerima lebih awal bahwa anaknya berbeda dengan anak-anak pada umunya. Beberapa merasa kalau anaknya baik-baik aja walau sudah mendekati usia 2 tahun belum bisa mengeluarkan sepatah katapun. Buat saya penerimaan si ibu ini jadi salah satu faktor penting keberhasilan terapi. Buat lebih gampang saya bakalan kasi 2 cerita nyata yang saya alami sendiri yaa.

Ada Ibu A, Ibu A ini dari anaknya umur 2 tahun udah ngeh banget kalo tiap dipanggil gak noleh, belum bisa ngomong, dan memiliki keterlambatan serta beberapa ciri khas autis. Saat usia 2 tahun lebih ibu A sudah membawa anaknya untuk assessment. Setiap sesi diskusi setelah proses terapi, Ibu A mendengarkan dengan seksama, mengiyakan, dan mengulangi kembali di rumah.

Ada lagi Ibu B yang anaknya memiliki kesamaan dengan ibu A hanya saja ibu A baru membawa anaknya untuk assement saat usianya sudah 4 tahun. Setiap sesi terapi, setiap kali saya menjelaskan bahwa anak ibu B belum mau merespon perintah dengan baik, ibu B selalu mengatakan “tapi di rumah mau kok mbaa, bisaa”. Materi yang diajarkan juga jarang diulangi di rumah. Ibu B ini masih merasa anaknya baik-baik aja dan normal selayaknya anak pada umumnya walau sudah memiliki kecenderungan kearah autis.

Setahun kemudian, anak ibu A dengan izin Allah memiliki progress yang signifikan. Sudah mampu menyebutkan banyak kata, merespon jika dipanggil, ciri khas autis berkurang. Sedangkan, anak ibu B tidak memiliki kemajuan yang berarti.

Orang tua yang sudah menerima bahwa anaknya memiliki keistimewaan akan lebih mudah untuk diarahkan, terbuka saat diajak diskusi terkait perkembangan anak, dan cenderung lebih menerima saran dari proses terapi.

Nyatanya penerimaan itu tidak hanya sekali atau dua kali kita upayakan, tapi setiap hari. Seringkali selama proses terapi saya mengatakan “Sabar”. “Tidak marah”, “Tenang”., kadang saya merasa kata-kata tersebut lebih cocok saya tujukan pada diri sendiri. Pekerjaan saya mengajari mereka tapi justru saya yang belajar banyak dari mereka. Berada didekat mereka mengajarkan saya untuk banyak bersyukur, melihat perjuangan kedua orang tua mereka membuat hati saya tergerakan untuk berjuang lebih keras.

Lelah, capek, jenuh manusiawi kita rasakan saat harus mengurus mereka selama 24 jam. Tapi jika melihat dari kacamata iman saya merasa kelak kesusahan itu yang akan memberikan kita kemudahan di kemudian hari. Terbayang di hari akhir kelak, mereka menyambut kita dengan senyuman hangat dan bersaksi bahwa selama dunia kita telah mengurus mereka dengan sebaik-baik kemampuan kita.

            Semangat untuk para orang tua yang dianugerahi anak istimewa. Kalian hebat


Note: Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes menulis yang diadakan oleh generos.