Thursday, 4 February 2016

Review Novel: Hujan by Tere Liye

Jadi saya barusan selesai hujan-hujanan setelah baca novel Tere Liye yang satu ini. Berhubung lagi mood bikin review, karena biasanya malesan langsung aja saya tulis disini. Yey \o/

       Berlatar di tahun 2050an dengan segala kecanggihan teknologi yang ada, novel hujan awalnya bercerita tentang gadis berumur 21 yang mendatangi sebuah tempat yang bisa menghapus ingatan menyakitkan. Lucunya hal yang ingin dilupakan Lail adalah hal yang juga sangat disukainya.

"Aku ingin melupakan hujan" - Lail, halaman 9

     Alur novel hujan ini dibuat bolak balik antara tahun 2042an dan terus maju hingga 2050an tadi. Keingin Lail untuk melupakan hujan diawali dengan tragedi gempa bumi akibat gunung meletus mahadasyat yang menghancurkan dua benua dan menyisakan hanya sekitar 10 persen penduduk bumi. Kehidupan yang dulu menggunakan segala teknologi canggih kembali ke nol. Butuh waktu bertahun-tahun agar semuanya kembali normal. Lail kehilangan Ibu dan Ayahnya akibat peristiwa itu sekaligus mengantarkannya pada penyelamatnya, Esok. Lengkapnya Soke Bahtera yang juga kehilangan empat kakaknya karena gempa tadi. Esok adalah karakter favorit saya di novel ini.

     Semenjak kejadian itu Esok dan Lail saling mengisi. Umur Lail saat itu masih 13 sementara esok 15 tahun. Dimana ada Esok disana ada Lail. Berdua keduanya melewati hal-hal buruk. Bertahun-tahun usai kejadian itu takdir membawa keduanya pada kehidupan masing-masing. Esok yang memang seorang genius menjadi anak angkat walikota dan masuk di universitas terbaik di ibu kota, sementara Lail harus puas tingga di panti dan menjadi relawan yang tangguh. Tapi siapa sangka, Lail ternyata punya perasaan lebih pada Esok. Perasaan yang ia pendam bertahun-tahun lamanya.

Hidup ini memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari, kapan kita akan berhenti menunggu (hal.228)

Dengan wajah yang penuh senyuman usai menyelesaikannya, saya harus bilang bahwa novel Tere Liye kali ini adalah salah satu favorit saya dari semua novel lain miliknya yang saya baca. Salah satu ciri khas Bang Tere dalam membuat novel adalah alur yang berjalan lambat dan terkesan dipanjang-panjangkan. Namun dalam novel ini segala sesuatunya terasa pas termasuk jumlah halaman yang setebal 320 halaman.
 
"Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya."

Terlepas dari cerita yang menarik dan dikemas dengan cara sederhana, saya juga harus bilang saya tidak suka tokoh Lail dalam novel ini. Lail diceritakan sebagai gadis lemah yang cengeng dan tidak memiliki sesuatu yang spesial dalam dirinya. Karakternya kurang kuat untuk tokoh utama. Beberapa bagian juga terkesan dilebih-lebihkan seperti ketika Lail dan Marya, sahabat Lail menjadi relawan.
 
"Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya menetap dihati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya, biar menetap dihati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian."

Banyak kejutan dari novel ini seperti kejadian bencana yang mungkin gak pernah diduga manusia, misalnya musim dingin berkepanjangan akibat efek gunung meletus. Kamu juga akan dibuat penasaran dengan ending yang sangat-sangat tidak mengecewakan. Dan apakah Lail jadi menghapus ingatannya, yang berarti juga akan ikut meghapus Esok di dalamnya? Temukan di dalam novelnya. Mungkin itu aja. Selamat membaca, selamat hujan-hujanan!
 
"Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." - (Hujan, Epilog, hlm. 318)

4,2/5
ris. Ptk, 4 Januari 2016